Saya tidak
tahu seberapa besar kebencian saya terhadap sistem yang ada. Terhadap pemikiran
orang lain yang tidak tahu apa-apa. Dan tertutupnya otak mereka.
Meh.
Mereka kira saya
mentang-mentang pintar? What the heck is
that?
Siapa sih
yang meminta sakit? Lebih baik cepat mati daripada harus melewati rasa sakit.
Bukankah begitu?
Tidakkah
terlihat bodoh mereka menilai sesuatu dari luarnya saja? Dari ‘katanya’ saja?
Pathetic. Hilang respek sudah.
Saya pikir orang-orang
dewasa yang punya lebih banyak pengalaman dan wawasan luas bisa diandalkan. Memang
tidak semua bisa diandalkan. Di antara mereka banyak yang sekadar berucap tanpa
berpikir. Siapa yang bodoh sebenarnya? Memaksakan kehendak pada yang lebih muda
tanpa tahu masalah yang dimilikinya?
Lalu, apa
hubungannya dengan ‘pintar’? Aneh sekali. Bukti seberapa bodohnya sistem di
sini. Anda menilai seseorang pintar hanya karena... nilai pelajaran? Jadi, bagi
mereka yang nilainya belum baik, Anda layak sebut ‘bodoh’?
Hanya karena
nilai saya lebih baik, Anda sebut saya pintar, dan hanya karena saya sering
absen, Anda sebut saya mentang-mentang pintar? Haha.
Saya merasa kasihan
dengan teman-teman lainnya yang lebih pintar dari saya namun mungkin Anda pikir
mereka bodoh karena selalu berangkat sekolah. Jadi, mereka tidak
mentang-mentang bodoh? Harusnya kan mereka disebut pintar sejati karena mereka selalu
berangkat, tidak absen dan tidak ‘mentang-mentang pintar’ seperti saya?
Bagaimana
bisa definisi pintar itu harus diselaraskan dengan nilai yang bagus? Banyak
sekali anak hebat yang menjadi ‘pintar’ tanpa mendapat nilai yang bagus. Mereka
bahkan luar biasa dari saya. Mereka bahkan yang menjadi inspirasi saya.
Anda pikir
semua anak bisa bahagia hanya dengan nilai yang bagus? Buktinya, saya tidak
bisa bahagia dengan nilai yang bagus saja. Saya butuh hal lain yang membuat
saya bahagia lebih dari sekadar nilai yang bagus.
Bagaimana
bisa seorang yang begitu dewasa seperti Anda mengharuskan seorang yang ‘mentang-mentang
pintar’ seperti saya, memenuhi kriteria ideal Anda?
Baik.
Mungkin orang yang ‘sebenarnya pintar’ atau ‘pintar sejati’ itu adalah anak
dengan nilai baik, rajin dan tepat waktu dalam mengerjakan tugas, sempurna baik
dunia dan akhiratnya, sempurna baik akademik maupun nonakademik, pandai
berorganisasi, tidak pernah absen, tidak lupa patuh serta taat kepada guru dan
orang tua.
Mungkin Anda
memiliki role model yang luar biasa
sempurna di tahun-tahun sebelumnya. Saya mendengar beberapa kakak kelas yang
pantas saya sebut superior, bahkan mungkin di angkatan saya ada beberapa anak
yang hampir mendekati kriteria Anda tersebut.
Lalu, apakah
saya memilih untuk menjadi sekelas role model
yang Anda maksud?
Haha, BIG
NO.
Anda saja
yang tidak bisa melihat cacat dari kesempurnaan mereka. Allah punya maksud baik
dengan menyembunyikan dan menutupi kekurangan mahluknya. Saya pun memiliki
kekurangan dan saya akui itu. Saya menerimanya dan tidak malu dengan kekurangan
itu. Kekurangan telah memanusiakan saya.
Untuk apa
memenuhi kriteria dari orang lain? Untuk apa? Diri saya berbeda dengan orang
lain. Pernah saya berusaha memenuhi kriteria role model dalam masyarakat, ujung-ujungnya saya tidak bahagia dan
tidak bisa menjadi diri saya sendiri.
Saya hanya
kecewa mendengar sebutan ‘mentang-mentang pintar’ dari Anda. Stereotipe Anda
mengenai pintar benar-benar berbeda di mata saya.
Saya tahu
bahwa tidak masuk sekolah dengan frekuensi terlalu sering menjadi suatu
kesalahan. Saya akui itu. Saya tidak menampik bahwa hal yang saya lakukan itu
bukan hal yang sepele. Namun, apakah pantas bagi Anda menilai absennya saya
dihubungkan dengan sikap ‘mentang-mentang pintar’?
Anda tidak
tahu apa yang terjadi dalam hidup saya selama ini. Anda bahkan bukan orang tua
saya. Anda bukan siapa-siapa dalam hidup saya. Anda mungkin baru mengenal saya
sejak saya masuk ke SMA tempat Anda bekerja.
Anda bahkan
tidak tahu seberapa besar usaha saya untuk tetap masuk ke sekolah. Anda tidak
tahu seberapa banyak biaya yang orang tua saya keluarkan untuk mengobati saya. Anda
pikir dengan absennya saya, saya tidak mendapat kerugian apa pun? Uang sekolah
tetap saya bayar, tetapi saya tidak menikmati fasilitas sekolah setiap hari.
Kalian
mungkin berpikir saya tidak sakit, tetapi pernahkah kalian merasakan menjadi
saya? Mungkin yang ada dipikiran Anda, untuk apa saya yang tidak terkena
penyakit berat seperti jantung, kanker, bahkan HIV/AIDS, tidak masuk sekolah?
Sebenarnya,
saya menghargai Anda. Saya tahu, mungkin dari sudut pandang orang dewasa yang
bekerja sebagai pegawai, ketidakhadiran adalah masalah yang krusial. Maka dari
itu, Anda peduli dengan ketidakhadiran saya di sekolah, merasa bahwa saya harus
tetap mengikuti aturan sekolah.
Itu juga
yang saya mau. Betapa indahnya sistem ketika semua orang patuh aturan yang ada
bukan?
Namun,
dengan menambah embel-embel sebutan ‘mentang-mentang pintar’, pandangan Anda
malah membuat saya semakin membenci buruknya sistem di sini. Saya yang berusaha
keras untuk tidak kembali merasa sakit dan tidak merasa cepat lelah setiap hari
malah semakin tidak ada semangat untuk sekolah. Mungkin Anda pikir, saya tidak
ada semangat sekolah karena ‘mentang-mentang pintar’?
Sakit, tidak
ada yang memintanya. Disebut ‘pintar’, juga bukan sesuatu yang saya harapkan.
Pujian yang
terus menerus dilontarkan mengenai seberapa hebatnya saya mendapatkan nilai
yang baik walaupun sering absen malah membuat saya sedih dan kecewa. Bukan itu
yang saya inginkan. Pujian itu seakan menjadi ejekan bagi saya. Mungkin kalian
berpikir, tanpa usaha keras, saya bisa mendapatkan segalanya. Itu menyakitkan
bagi saya.
Itu
memalukan. Bukan berarti dengan tidak masuk, saya bisa terus menjadi yang
terbaik dalam segala hal. Saya tidak pantas disebut pintar hanya dengan sering
absen dan mendapat nilai baik. Saya tidak pantas mendapatkan pujian seperti
itu.
Kalian yang
tidak tahu apa-apa hanya bisa menyalahkan bagaimana pikiran saya bekerja tanpa
berusaha mengenal dan mengetahui apa masalah yang saya alami.
Saya lebih
baik menyelesaikan masalah saya sendiri daripada meminta bantuan orang lain
yang bahkan tidak tahu inti permasalahannya.
Pernah saya
mencoba meminta pendapat dan bantuan dari orang lain, terbukti bahwa itu hanya
memperkeruh pikiran saya. Tidak menyelesaikan masalah sama sekali.
Tujuan saya
bukan hanya nilai baik. Saya berusaha untuk memenuhi tanggung jawab saya walaupun
hambatan yang ada saat ini.
Anak yang
Anda sebut ‘mentang-mentang pintar’ ini sayangnya absen sekolah bukan karena
pintar, namun karena sakit yang menyebabkannya tidak sanggup ke sekolah. Saya
yakin Anda yang sudah melewati pengalaman panjang bertahun-tahun pernah
merasakan sakit dan pernah merasakan terganggunya aktivitas karenanya.
Oh iya.
Haha. Anda pikir saya meminta untuk sakit? Anda pikir saya berpura-pura untuk
sakit? Anda pikir saya terlalu mudah menyerah? Anda pikir saya tidak gigih?
Jika saya
seperti yang Anda pikirkan, lebih baik saya pindah sekolah atau memilih home schooling sedari dulu.
Masih ragu
dan tidak percaya? Silahkan mampir ke rumah untuk melihat, apakah saya di rumah
hanya berleha-leha karena ‘mentang-mentang pintar’ atau memang benar-benar
tidak sanggup beraktivitas karena sakit. Silahkan mampir ke rumah untuk
melihat, apakah saya di rumah hanya diam tak berbuat apa-apa karena ‘mentang-mentang
pintar’ atau malah berusaha mengejar materi pelajaran dengan bertanya pada
teman (yang mungkin Anda sebut sebagai ‘pintar sejati’) dan mencari materi
melalui internet.
Bisa jadi,
saya lebih produktif dibandingkan anak-anak lain yang selalu terkungkung oleh
sistem yang rusak di sini. Namun, Anda bahkan tidak tahu hasil kerja keras saya
di bidang lain. Lagi pula, untuk apa menyombongkan diri terhadap sesuatu yang
fana? Cukup orang terdekat yang tahu itu. Setidaknya, orang tua saya lebih
paham diri saya dibandingkan Anda.
Terima kasih
atas pendapat Anda mengenai saya yang absen karena ‘mentang-mentang pintar’.
Saya harap semoga anak Anda tidak seperti saya, karena saya yakin, anak Anda
akan kecewa berat mendengar orang tuanya berkata seperti itu padahal dirinya
sudah bekerja keras untuk tidak absen (lagi).
Terima kasih
atas terawangan Anda mengenai masa depan saya yang diprediksikan ‘hancur’
melalui penilaian setengah-setengah Anda terhadap hidup saya. (Haha. Padahal
Anda tidak tahu dengan detail mengenai hidup saya dan Anda juga bukan Tuhan
yang menentukan takdir saya)
Saya harap
semua anak dapat bersinar dengan caranya sendiri, tanpa perlu dibanding-bandingkan
dengan orang lain.
Saya harap
semua anak dapat disebut jenius di bidangnya, tanpa perlu disinggung mengenai
kecacatan dan kekurangan yang mereka miliki.
Saya harap
semua anak dapat menjadi pintar dengan caranya sendiri, tanpa perlu disebut ‘mentang-mentang
pintar’.
Nobody’s perfect. Segala kesempurnaan
hanya milik Allah yang Maha Agung.
Salam.