Friday, October 19, 2018

‘Mentang-Mentang Pintar’, Katanya


Saya tidak tahu seberapa besar kebencian saya terhadap sistem yang ada. Terhadap pemikiran orang lain yang tidak tahu apa-apa. Dan tertutupnya otak mereka.
Meh.
Mereka kira saya mentang-mentang pintar? What the heck is that?
Siapa sih yang meminta sakit? Lebih baik cepat mati daripada harus melewati rasa sakit. Bukankah begitu?
Tidakkah terlihat bodoh mereka menilai sesuatu dari luarnya saja? Dari ‘katanya’ saja?
Pathetic. Hilang respek sudah.
Saya pikir orang-orang dewasa yang punya lebih banyak pengalaman dan wawasan luas bisa diandalkan. Memang tidak semua bisa diandalkan. Di antara mereka banyak yang sekadar berucap tanpa berpikir. Siapa yang bodoh sebenarnya? Memaksakan kehendak pada yang lebih muda tanpa tahu masalah yang dimilikinya?
Lalu, apa hubungannya dengan ‘pintar’? Aneh sekali. Bukti seberapa bodohnya sistem di sini. Anda menilai seseorang pintar hanya karena... nilai pelajaran? Jadi, bagi mereka yang nilainya belum baik, Anda layak sebut ‘bodoh’?
Hanya karena nilai saya lebih baik, Anda sebut saya pintar, dan hanya karena saya sering absen, Anda sebut saya mentang-mentang pintar? Haha.
Saya merasa kasihan dengan teman-teman lainnya yang lebih pintar dari saya namun mungkin Anda pikir mereka bodoh karena selalu berangkat sekolah. Jadi, mereka tidak mentang-mentang bodoh? Harusnya kan mereka disebut pintar sejati karena mereka selalu berangkat, tidak absen dan tidak ‘mentang-mentang pintar’ seperti saya?
Bagaimana bisa definisi pintar itu harus diselaraskan dengan nilai yang bagus? Banyak sekali anak hebat yang menjadi ‘pintar’ tanpa mendapat nilai yang bagus. Mereka bahkan luar biasa dari saya. Mereka bahkan yang menjadi inspirasi saya.
Anda pikir semua anak bisa bahagia hanya dengan nilai yang bagus? Buktinya, saya tidak bisa bahagia dengan nilai yang bagus saja. Saya butuh hal lain yang membuat saya bahagia lebih dari sekadar nilai yang bagus.
Bagaimana bisa seorang yang begitu dewasa seperti Anda mengharuskan seorang yang ‘mentang-mentang pintar’ seperti saya, memenuhi kriteria ideal Anda?
Baik. Mungkin orang yang ‘sebenarnya pintar’ atau ‘pintar sejati’ itu adalah anak dengan nilai baik, rajin dan tepat waktu dalam mengerjakan tugas, sempurna baik dunia dan akhiratnya, sempurna baik akademik maupun nonakademik, pandai berorganisasi, tidak pernah absen, tidak lupa patuh serta taat kepada guru dan orang tua.
Mungkin Anda memiliki role model yang luar biasa sempurna di tahun-tahun sebelumnya. Saya mendengar beberapa kakak kelas yang pantas saya sebut superior, bahkan mungkin di angkatan saya ada beberapa anak yang hampir mendekati kriteria Anda tersebut.
Lalu, apakah saya memilih untuk menjadi sekelas role model yang Anda maksud?
Haha, BIG NO.
Anda saja yang tidak bisa melihat cacat dari kesempurnaan mereka. Allah punya maksud baik dengan menyembunyikan dan menutupi kekurangan mahluknya. Saya pun memiliki kekurangan dan saya akui itu. Saya menerimanya dan tidak malu dengan kekurangan itu. Kekurangan telah memanusiakan saya.
Untuk apa memenuhi kriteria dari orang lain? Untuk apa? Diri saya berbeda dengan orang lain. Pernah saya berusaha memenuhi kriteria role model dalam masyarakat, ujung-ujungnya saya tidak bahagia dan tidak bisa menjadi diri saya sendiri.
Saya hanya kecewa mendengar sebutan ‘mentang-mentang pintar’ dari Anda. Stereotipe Anda mengenai pintar benar-benar berbeda di mata saya.
Saya tahu bahwa tidak masuk sekolah dengan frekuensi terlalu sering menjadi suatu kesalahan. Saya akui itu. Saya tidak menampik bahwa hal yang saya lakukan itu bukan hal yang sepele. Namun, apakah pantas bagi Anda menilai absennya saya dihubungkan dengan sikap ‘mentang-mentang pintar’?
Anda tidak tahu apa yang terjadi dalam hidup saya selama ini. Anda bahkan bukan orang tua saya. Anda bukan siapa-siapa dalam hidup saya. Anda mungkin baru mengenal saya sejak saya masuk ke SMA tempat Anda bekerja.
Anda bahkan tidak tahu seberapa besar usaha saya untuk tetap masuk ke sekolah. Anda tidak tahu seberapa banyak biaya yang orang tua saya keluarkan untuk mengobati saya. Anda pikir dengan absennya saya, saya tidak mendapat kerugian apa pun? Uang sekolah tetap saya bayar, tetapi saya tidak menikmati fasilitas sekolah setiap hari.
Kalian mungkin berpikir saya tidak sakit, tetapi pernahkah kalian merasakan menjadi saya? Mungkin yang ada dipikiran Anda, untuk apa saya yang tidak terkena penyakit berat seperti jantung, kanker, bahkan HIV/AIDS, tidak masuk sekolah?
Sebenarnya, saya menghargai Anda. Saya tahu, mungkin dari sudut pandang orang dewasa yang bekerja sebagai pegawai, ketidakhadiran adalah masalah yang krusial. Maka dari itu, Anda peduli dengan ketidakhadiran saya di sekolah, merasa bahwa saya harus tetap mengikuti aturan sekolah.
Itu juga yang saya mau. Betapa indahnya sistem ketika semua orang patuh aturan yang ada bukan?
Namun, dengan menambah embel-embel sebutan ‘mentang-mentang pintar’, pandangan Anda malah membuat saya semakin membenci buruknya sistem di sini. Saya yang berusaha keras untuk tidak kembali merasa sakit dan tidak merasa cepat lelah setiap hari malah semakin tidak ada semangat untuk sekolah. Mungkin Anda pikir, saya tidak ada semangat sekolah karena ‘mentang-mentang pintar’?
Sakit, tidak ada yang memintanya. Disebut ‘pintar’, juga bukan sesuatu yang saya harapkan.
Pujian yang terus menerus dilontarkan mengenai seberapa hebatnya saya mendapatkan nilai yang baik walaupun sering absen malah membuat saya sedih dan kecewa. Bukan itu yang saya inginkan. Pujian itu seakan menjadi ejekan bagi saya. Mungkin kalian berpikir, tanpa usaha keras, saya bisa mendapatkan segalanya. Itu menyakitkan bagi saya.
Itu memalukan. Bukan berarti dengan tidak masuk, saya bisa terus menjadi yang terbaik dalam segala hal. Saya tidak pantas disebut pintar hanya dengan sering absen dan mendapat nilai baik. Saya tidak pantas mendapatkan pujian seperti itu.
Kalian yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menyalahkan bagaimana pikiran saya bekerja tanpa berusaha mengenal dan mengetahui apa masalah yang saya alami.
Saya lebih baik menyelesaikan masalah saya sendiri daripada meminta bantuan orang lain yang bahkan tidak tahu inti permasalahannya.
Pernah saya mencoba meminta pendapat dan bantuan dari orang lain, terbukti bahwa itu hanya memperkeruh pikiran saya. Tidak menyelesaikan masalah sama sekali.
Tujuan saya bukan hanya nilai baik. Saya berusaha untuk memenuhi tanggung jawab saya walaupun hambatan yang ada saat ini.
Anak yang Anda sebut ‘mentang-mentang pintar’ ini sayangnya absen sekolah bukan karena pintar, namun karena sakit yang menyebabkannya tidak sanggup ke sekolah. Saya yakin Anda yang sudah melewati pengalaman panjang bertahun-tahun pernah merasakan sakit dan pernah merasakan terganggunya aktivitas karenanya.
Oh iya. Haha. Anda pikir saya meminta untuk sakit? Anda pikir saya berpura-pura untuk sakit? Anda pikir saya terlalu mudah menyerah? Anda pikir saya tidak gigih?
Jika saya seperti yang Anda pikirkan, lebih baik saya pindah sekolah atau memilih home schooling sedari dulu.
Masih ragu dan tidak percaya? Silahkan mampir ke rumah untuk melihat, apakah saya di rumah hanya berleha-leha karena ‘mentang-mentang pintar’ atau memang benar-benar tidak sanggup beraktivitas karena sakit. Silahkan mampir ke rumah untuk melihat, apakah saya di rumah hanya diam tak berbuat apa-apa karena ‘mentang-mentang pintar’ atau malah berusaha mengejar materi pelajaran dengan bertanya pada teman (yang mungkin Anda sebut sebagai ‘pintar sejati’) dan mencari materi melalui internet.
Bisa jadi, saya lebih produktif dibandingkan anak-anak lain yang selalu terkungkung oleh sistem yang rusak di sini. Namun, Anda bahkan tidak tahu hasil kerja keras saya di bidang lain. Lagi pula, untuk apa menyombongkan diri terhadap sesuatu yang fana? Cukup orang terdekat yang tahu itu. Setidaknya, orang tua saya lebih paham diri saya dibandingkan Anda.
Terima kasih atas pendapat Anda mengenai saya yang absen karena ‘mentang-mentang pintar’. Saya harap semoga anak Anda tidak seperti saya, karena saya yakin, anak Anda akan kecewa berat mendengar orang tuanya berkata seperti itu padahal dirinya sudah bekerja keras untuk tidak absen (lagi).
Terima kasih atas terawangan Anda mengenai masa depan saya yang diprediksikan ‘hancur’ melalui penilaian setengah-setengah Anda terhadap hidup saya. (Haha. Padahal Anda tidak tahu dengan detail mengenai hidup saya dan Anda juga bukan Tuhan yang menentukan takdir saya)
Saya harap semua anak dapat bersinar dengan caranya sendiri, tanpa perlu dibanding-bandingkan dengan orang lain.
Saya harap semua anak dapat disebut jenius di bidangnya, tanpa perlu disinggung mengenai kecacatan dan kekurangan yang mereka miliki.
Saya harap semua anak dapat menjadi pintar dengan caranya sendiri, tanpa perlu disebut ‘mentang-mentang pintar’.
Nobody’s perfect. Segala kesempurnaan hanya milik Allah yang Maha Agung.
Salam.

Continue Reading...